Feeds:
Posts
Comments

Dewasa, sebuah hal yang tak akan pernah lepas dari setiap manusia. Kedewasaan bukanlah sekedar kata yang mudah untuk diucapkan. Kedewasaan juga bukanlah penampakan dari luar yang hanya bisa dinilai dengan satu kali tatapan. Kedewasaan lebih luas dari sekedar yang kita pikirkan. Seorang gadis pasti mendambakan memiliki sosok lelaki yang dewasa, begitu juga sebaliknya. Meski ada beberapa anggapan yang menyatakan seorang lelaki tentunya harus lebih dewasa daripada pasangan perempuannya. Semakin hari semakin banyak teman saya yang mulaimengambil keputusan besar dalam hidupnya. Entah sebuah pekerjaan atau mungkin sebuah pernikahan. Ada yang berkata seorang melankolis akan selalu berpikir tentang apa yang dia lihat, ah terlalu berlebihan jika seseorang mengatakan diri saya melankolis yang sempurna dan sebagainya.

Setiap hal yang ada di depan pandangan saya merupakan hal yang menarik, apapun itu. Termasuk tentang arti kedewasaan. Terkadang kita menjadi dewasa karena kita merasa mendapat tuntutan dari orang lain, baik itu atasan kita, ataupun pasangan kita. Hal ini bukankah akan menjadi suatu hal yang akan menunjukkan bahwa dirinya bukanlah seorang yang dewasa. Kedewasaan itu tidaklah mudah diukur dengan ukuran-ukuran baku yang ditetapkan orang lain. Yang tahu seberapa dewasa diri kita hanya diri kita sendiri tentunya, selain Sang Pencipta. Kita harus ingat seorang anak kecil yang mungkin merupakan anak terbuang, karena tidak mampu mengenyam pendidikan dan sebagainya suatu hari nanti akan menjadi anak yang sangat dihargai ditempat lain. Dimensi waktu dan tempat sangatlah berperan dalam kehidupan ini. Tidaklah bijak kita mangagung-agungkan seseorang dan membandingkan dengan orang lain. Kita mungkin tak tahu apa kelebihan yang kita miliki. Kedewasaan sekali lagi bukanlah hanya sebuah pengakuan, namun lebih dari itu suatu usaha dan kesadaran diri bahwa usia kita telah member kita tuntutan yang baru.

Kedewasaaan adalah jatidiri yang sesungguhnya. Bukan sekedar ikut-ikutan punya pacar, ikut-ikutan bermain-main tanpa tujuan yang jelas. Setiap manusia itu punya keunikan yang sesungguhnya itu merupakan potensi yang luar biasa dari Allah SWT. Misalnya seorang yang memang cenderung cerewet, kedewasaan dirinya bukanlah dengan menghancurkan sikap cerewetnya ini, namun menempatkan pada posisi yang lebih baik. Mungkin dia punya bakat dalam presenter, yang tentu sikap ini akan bermanfaat. Jadi janganlah kita mengikuti hal yang tidak pasti, hal-hal yang orang-orang katakan tanpa dasar yang jelas. Sesungguhnya setiap yang benar datangnya dari Allah, dan kesalahan karena kelemahan kita sebagai manusia. Tetap semangat saudaraku meraih jatidiri yang unik yang kita miliki masing-masing.

“Rumah, Sidoarjo”

Positif, dan negatif. Bagaimana mengartikan kedua kata tersebut? Sangat mudah tentunya, karena keduanya saling berlawanan. Positif dan negatif, ya kira-kira hal itu yang ada dipikiran saya 1-2 hari ini. Entah mengapa saya merasa kebawa semangat negatif di lab baru ini, semangat minus yang memasuki pikiran bahkan jiwa saya. Menyeramkan… tentu saja, karena hal ini membuat saya malas untuk berkarya, suatu hal yang sangat tidak saya sukai tentunya. Entah mengapa pikiran saya jadi stagnan, malas ini dan itu. Rencana-rencana untuk membuat ini dan itu tidak selesai-selesai.

Tulisan ini mungkin hanya sebuah curhatan diri saya yang tidak ada artinya dibandingkan tulisan lain. Namun saya hanya ingin menyampaikan sesuatu, sekali lagi tentang positif dan negatif. Kita menyadari diri kita, bangsa kita bahkan hampir semua orang kita banyak teracuni pikiran-pikiran negatif. Pikiran yang menyatakan kalo tidak mau melakukan ini nanti sakit, tidak mau belajar nanti bodoh, dsb. Memang tidak salah, namun secara tidak langsung yang kita capai hanya tidak sakit, tidak bodoh dsb. Kita merasa cepat puas, merasa sudah cukup dengan usaha kita dan yang ada akhirnya kita tidak produktif lagi.

Mengapa kita belajar menggunakan kalimat positif. Jika belajar nanti pandai, jika rajin olahraga nanti sehat. coba kita renungkan mana yang lebih banyak kita ucap, mana yang lebih banyak kita dengar. Secara tidak langsung kata-kata nanti sakit, orang akan terpikir bahwa dirinya nanti sakit. Nanti bodoh, pastinya dia akan berpikir bodoh terus, baiklah jika bodohnya karena kita merasa kurang, akan belajar lagi, jika bodohnya pasrah saja, namanya juga sudah nasib bodoh. Kenapa tidak mencoba banyak berkata pintar, sehat, sukses, jaya, dst.

Coba kita lihat yang lebih menonjol di negeri ini selalu berita kriminal, kpk vs polri, perampokan, bom , dsb. Masyarakat mencintai itu semua, lupa bahwa kita juga punya banyak hal yang bisa kita banggakan. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Ini mungkin sangat sederhana, tapi darisana yang ada hanya kata dendam, iri, dan dengki. Coba kita renungkan. Mengapa tidak ada liputan khusus tentang keberhasilan pendaki gunung kita mencapai puncak tertinggi, mengapa bukan berita utama tentang keberhasilan pelajar kita menjadi juara umum olimpiade dunia, mengapa bukan karya-karya anak bangsa yang kita apresiasi. Saya yakin dengan semua berita dan hal positif tadi, pikiran kita semakin terbuka, yang ada kebanggaan, kebahagiaan, bukan terus menerus sakit, dan sakit. Siapa yang akan mengobati rasa sakit bangsa ini? Kalo bukan kita, kalo bukan kita mencoba meraih prestasi yang terbaik di bidang kita masing-masing. Ingat, kita bukan melepas hal-hal yang buruk, namun hal buruk harus jadi pelajaran bagi kita, dan hal hal yang baik harus lebih banyak kita raih. Jika anak kecil bisa menjadi teroris karena berita di TV. Mengapa tidak mungkin anak kecil bercita-cita menjadi Juara Olimpiade setelah melihat negeri ini juga mampu berkarya. Mengapa Tidak???? Kita harus bisa.!!!

“Rumah, Sidoarjo”

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikumsalam…

Pernahkah kita berpikir tentang arti sebuah salam, tentang keindahan dan makna ucapan diatas. Keselamatan, salam, dst.. Semuanya tentu sudah mengenal arti dari ucapan salam diatas. Tanpa terkecuali seorang anak kecil pun. Keselamatan? mengapa kita mencari sebuah keselamatan, kenapa bukan sebuah kekayaan, atau kemewahan semata. Kita coba renungkan hal berikut ini, kenapa mobil-mobil mewah mengutamakan keselamatan, dengan adanya Air Bag, dsb.. kenapa tidak berlomba saja melapisi semua body mobil dengan sebuah emas 24 karat, yang tentu akan lebih mewah. Karna begitu mahal harga sebuah keselamatan. Kita semua bahkan mengenal kata “safety first”, layak kita kejar keselamatan hidup kita ini.

Keselamatan hidup di dunia dan hingga kelak kita di akherat bukanlah harga yang murah. Kita mungkin bisa merasa sudah banyak amal kita, ibadah kita, namun siapa yang akan menjamin bahwa kita akan selamat kelak di hari akhir. Hanya Allah semata yang akan melindungi kita. Dalam tidur dan terjaga kita, dalam mimpi dan sadar kita. Allah punya segala nya. Janganlah pernah merasa bahwa apa yang kita pilih adalah pasti benar, karna mungkin Allah punya rencana yang indah.

Aku hanya ingin mencoba tuk tetap tersenyum di hari nan indah indah ini. Di bulan penuh ampunan Allah. Kita manusia hanya terbawa nafsu semata, nafsu dunia yang tiada batas. Kita tak pernah berpikir bahwa ada hal lain yang harus kita perjuangkan, ada semangat yang terus tetap kita jaga. Semangat untuk berada di jalannya. Aku percaya suatu hari nanti kita akan bahagia, dalam sejuta mimpi indah, untuk apa kita selalu mengeluh terhadap diri kita, pasrahkan hidup ini kepada yang memiliki kita sesungguhnya, belajar ikhlas akan apa yang kita miliki, suatu saat, jika memang semua itu milik kita pasti akan kembali kita, hanya soal waktu. Tetap semangat saudaraku, tetap berdoa kepada Allah.. dan Semoga Salam Keselamatan selalu mengiringi mu dimanapun kita berada. Tiada kata berpisah dalam hidup ini, karena kita harus bersama meraih kebahagiaan sejati menjadi manusia yang bermanfaat bagi semua. Allahu Akbar, Bismillah.. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya bagi kita semua. Amin..

“Rumah, Sidoarjo”

Merdeka… Salam Hangat dari Seluruh Anak Bangsa Untuk Mu Negeriku tercinta. 64 Tahun, bukanlah usia yang muda lagi bagi bangsa yang lahir di tanggal 17 Agustus 1945 ini. Sebuah penghormatan bagi para pahlawan yang telah berjuang merelakan jiwa raganya untuk lahirnya bagsa ini. Untuk kebahagian dan kedamaian bangsa ini. Saat ini bukanlah selesai tugas kita, sebagai penerus bangsa ini, sebagai calon pemimpin bangsa, masih banyak hal yang harus kita perbaiki. Musuh kita bukanlah lagi penjajah Belanda, namun kemiskinan, ketertinggalan, terorisme, dan kebodohan yang masih banyak di negeri kita tercinta ini.

Dengan semangat 17 Agustus ini, mari kita tingkatkan nasionalisme kita, rasa kebanggan kita terhadap negeri ini. Suatu hari nanti kita harus bisa mengibarkan merah putih di tempat tertinggi dimanapun kita berada. Indonesia harus tetap ada, sampai kapanpun, tetap jaya seperti impian kita. Mari kita bersama meningkatkan kesejahteraan bangsa ini, menjadikan Indonesia sebagai negeri yang aman, damai dan tenteram. Jangan pernah menyerah, merah putih ada di jiwa kita dalam kedamaian, dan kebahagiaan saat ini, besok dan seterusnya. Semoga Indonesia ku tetap berdiri, tetap berjuang dalam mewujudkan cita-cita luhur menjadi negeri yang aman, damai dan tenteram. Amin..

Salam Merdeka… !!!

“Rumah, Sidoarjo”

Tulisan ini diilhami dari sebuah percakapan sederhana seorang teman saya, saat makan di kantin RS Jum’at kemarin. Dalam perbincangan itu, salah seorang teman saya, mengungkapkan pemikiran tentang stetoskop yang multifungsi, dan sebagainya. Masih teringat juga tentang sebuah pendapat yang menyatakan bahwa ide-ide inovatif justru banyak pada generasi muda, karena pada masa ini belum banyak terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan ketika sudah berada di tempat kerja, dsb. Logikanya mudah saja, ketika berada di sebuah perusahan, inovasi kita tentu ditujukan untuk kepentingan perusahan. Kita lebih banyak berpikir tentang biaya dan sebagainya, karena tentu semakin dewasa kita semakin rasional untuk menilai sebuah produk atau rancangan itu dapat dilaksanakan atau tidak. Ketika masih berada dalam tahapan SMP, SMA atau bahkan Mahasiswa, yang ada hanyalah sebuah khayalan-khayalan yang terkadang kita mungkin merasa hal itu mustahil akan terlaksana, dsb.

Kita sedikit, bayangkan pada masa lampau sebelum Thomas Alfa Edison menemukan sebuah lampu, pasti semua anggapan akan adanya cahaya yang dapat menerangi malam layaknya lampu, hanya sebuah khayalan. Namun, bagi kita di masa sekarang ini dengan adanya lampu banyak sekali hal yang bisa diciptakan, baik itu sebua projector, sebuah komputer, dsb. Mungkin bagi yang bergerak di bidang teknik akan lebih banyak tahu tentang hal ini. Penemuan antibiotik di ilmu kedokteran, juga merupakan sebuah penemuan yang luar biasa, dengan kemajuan ilmu antibiotik penyakit-penyakit infeksi dapat ditekan, namun karena penggunaan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan aturan yang ada muncul permasalahan baru mengenai resistensi antibiotika. Semua hal ini pada masa-masa sebelumnya hanyalah sekedar mimpi. Meski kita tidak boleh terus-terusan bermimpi, namun dari sebuah mimpi dan cita-cita, jika kita mau berpikir dan mampu menerapkan dalam kehidupan nyata, bukan tidak mungkin hal-hal baru yang saat ini hanya sebagai khayalan akan terwujud suatu hari nanti.

Setiap manusia pasti tidak selamanya muda, pada akhirnya akan dewasa dan tua. Jika menilik tulisan diatas, sebaiknya kita tetap muda dalam pemikiran dan inovasi. Andaikan harus tua, lebih baik lagi jika pemikiran kita mengenai inovasi ini tetap terjaga. Karena semakin banyak hal yang bisa kita perbuat sebenarnya akan membuat kita semakin menikmati kehidupan. Teruslah bermimpi, mencoba memikirkan dan mewujudkan mimpi itu. Meski hanya sebuah mimpi namun dapat terwujud, lebih baik daripada hanya jutaan mimpi tanpa ada kenyataan. Ketika kita memiliki ide dan pemikiran emas, tidak ada salahnya kita berbagi, jika kita merasa tak akan mampu mewujudkan mimpi itu sendiri. Karena pemikiran kita akan bermanfaat jika banyak orang yang menjadi lebih baik dengan pemikiran-pemikiran tersbut. Selalu berkarya dan berdo’a. Semoga Allah memudahkan jalan hidup kita. Amin..

“Rumah, Sidoarjo”

Bulan ini, hari yang spesial pagi seluruh bangsa Indonesia. Selain menanti masuknya bulan suci Ramadhan, kita semua juga melewati peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa ini. Hari kemerdekaan yang tahun ini memasuki usia ke 64 tahun, sebentar lagi akan tiba. Banyak hal yang diadakan untuk memperingati hari bebasnya negeri ini dari penjajahan. Mulai dari sebuah pertandingan sepakbola antar RT, lomba-lomba anak kecil. Semua itu tentu dengan maksud untuk menjaga kekompakan, persahabatan, dan persatuan di antara warga. Tidak kalah penting dari itu, adalah memahami makna kemerdekaan ini.

Kemerdekaan bukan semata-mata hanya sebuah perayaan hura-hura, lebih dari itu kemerdekaan mengingatkan kita akan perjuangan para pahlawan di masa lampau, akan beratnya usaha mereka untuk menegakkan merah putih di bumi pertiwi. Siapapun pasti merasa bahwa nasionalisme kita akan bergelora saat menyaksikan upacara detik-detik proklamasi, saat bendera dikibarkan. Sejak kecil, saya sangat senang melihat upacara 17 Agustus. Ada rasa bangga di jiwa ini ketika melihat Indonesia Raya dikumandangkan saat Merah Putih dikibarkan. Semoga suatu hari nanti bisa mengikuti upacara bendera ini di Istana Negara Jakarta, meski hanya sebuah mimpi pada masa kecil saya dulu.

Indonesia tidaklah boleh berpuas diri, masih banyak hal yang perlu kita lakukan untuk mebuat negeri ini lebih sejahtera dimasa yang akan datang. Kita perlu melihat negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia, kemajuan-kemajuan yang mereka capai, harusnya bisa kita raih dan kita dapatkan juga. Karena sesungguhnya kita satu rumpun yang dalam arti kita mempunyai potensi yang sama dalam sumber daya manusia, dengan kekayaan alam yang jauh lebih melimpah. Jangan sampai negeri ini jatuh dalam kemiskinan. Mari kita perjuangkan bersama segenap komponen bangsa ini untuk terus berkarya bagi negeri yang kita cintai, negeri damai, negeri penuh warna, dengan sejuta pesona, sejuta impian dan sejuta harapan. Tak ada yang tak mungkin. Kemajuan bangsa ini mungkin pasti akan tercapai, namun kita akan ikut berperan serta mewujudkan atau justru menghambat, hanya kita yang mampui menjawab.

Dirgahayu Bangsaku, Jayalah Negeriku.. Merdeka.. !!

“Rumah, Sidoarjo”

Tidak terasa ya, hari sudah Sabtu dan esok Minggu lagi. Tidak terasa juga sudah 5 bulan berlalu melewatkan waktu sebagai seorang dokter muda di RSU Dr. Soetomo. Tidak terasa juga sebenatar lagi bulan suci menanti kita. Masih teringat ketika empat tahun lalu masih harus berjuang untuk masuk ke Perguruan Tinggi melalui SPMB. Masih jelas ada kenangan-kenangan indah itu. Jika kita mau sedikit merenung, pasti kita akan sadar, jika waktu yang kita miliki ini berjalan secepat bumi berputar, tanpa ada yang mampu menghentikan.

Dari hari ke hari semakin berkurang lah usia kita, semakin dewasa pribadi kita. Namun, pernahkah kita merasa menyesal akan apa yang dahulu kita lakukan. Akan sikap dan perbuatan kita yang salah. Saya yakin, setiap orang pasti pernah merasa menyesal, entah hanya karena lupa belajar dan akhirnya nilai tak memuaskan atau hal-hal lain yang kita tak pernah sadari. Waktu terus berlalu, seperti bumi yang terus berganti, siang dan malam tak kan pernah berhenti. Hampir 22 tahun sudah waktu saya habiskan di dunia ini. Namun, tak banyak hal yang bisa saya lakukan.

Masih ada waktu, untuk kita tuk perbaiki diri. Tuk wujudkan mimpi yang kita punya. Jangan pernah menyerah untuk selalu bahagia dalam perjalanan hidup ini. Selalu bersyukur akan apa yang kita punya. Akan apa yang kita miliki. Mungkin, suatu saat nanti saya akan mengingat perjalanan hidup saya di masa lampau, mengingat hari kemarin, hari ini dan hari esok, karena tiada orang yang mampu memastikan hidup kita, selain kita berusaha dan selalu berdoa kepada Allah semata. Semoga perjalanan hidup kita tetaplah indah, tetaplah dimudahkan dan dijauhkan dari segala macam kesedihan dan marah bahaya. Amin..

Semangat Saudaraku..
Marhaban ya Ramadhan..

“Rumah, Sidoarjo”

Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu akhirnya bisa mengunjungi tempat wisata yang terletak di Jalan Oro-Oro Ombo, Batu ini. Sudah hampir setahun yang lalu mungkin tempat wisata ini dibuka untuk umum, namun karena baru ada kesempatan 3 minggu yang lalu, ya tidak apalah, meski sudah bukan yang baru bagi beberapa orang.

Perjalanan diawali dari saat mencari tempat parkir, hmm.. memang lumayan susah juga ya nyari tempat parkir, apalagi waktu itu kan liburan panjang (3 hari berurutan), meski harus sedikit sabar akhirnya bisa juga dapat tempat parkir. Oh ya, waktu saya pergi kesana bareng sama adik kandung, ortu juga. Karena memang niatnya mau jalan-jalan sekeluarga, karena sebelumnya sudah agak lama tidak jalan ke luar kota bersama karena kesibukan saya sendiri dan juga ortu.

Ok, lanjut ke dalam tempat wisata BNS, dengan membayar 10 ribu bisa masuk ke tempat wisata. Karena hari libur jadi tarifnya lebih mahal dibanding hari-hari biasa. Perjalanan diawali dari melihat-lihat sekeliling tempat wisata tersebut dari depan pintu masuk. Hmm.. rame juga ya ternyata, memang kelihatannya lebih seru jika bawa keponakan atau saudara yang masih kecil-kecil. Sejak awal memang kami, khususnya saya juga tidak terlalu senang bermain-main dengan mencoba wahana-wahana itu, jadi ya jalan-jalan masuk saja ke Lampion Garden. Wah.. menyenangkan sekali, karena memang saya paling suka menikmati suasana, menikmati dinginnya kota batu, dan keindahan lampion-lampion yang ada di taman tersebut. Akhirnya juga foto-foto yang dipentingkan, hehehe… Setelah puas menikmati suasana, akhirnya kita keluar dari taman tadi. Setelah itu saya masuk rumah kaca dan diakhiri di rumah hantu.

Memang tidak banyak wahana yang saya masuki, namun memang karena tujuan saya menikmati suasana. Alhamdulillah, kita perlu banyak bersyukur karena kita masih bisa melihat karunia Allah yang sedemikian indahnya. Jadi ingat beberapa waktu dalam kunjungan ke YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Buta) saya melihat anak-anak kecil yang terpaksa tidak bisa melihat indahnya dunia semenjak usia dini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita rahmat dan hidayahnya hingga akhir nanti. Amin..

“Rumah, Sidoarjo”

Keimanan seseorang adakalanya meningkat dan adakalanya menurun. Karena memang manusia memiliki hawa nafsu memiliki akal, dah hati nurani. Ketika hawa nafsu yang menjadi pemain inti dalam kehidupan ini, maka akal dan hati nurani pun akan tertutup seakan-akan semua jalan yang kita lalui ini adalah benar, tanpa ada kontrol dari sebuah akal dan hati nurani yang suci. Ketika keimanan kita berada dalam tahap yang baik, Insya Allah hati nurani yang suci ini akan memainkan peranannya. Kita bisa jalan dengan tertawa terbahak-bahak di muka bumi ini, namun jika kita mau sejenak renungkan sesungguhnya kebahagiaan itu hanyalah kebahagiaan semu, kebahagiaan sesaat yang akan segera tergantikan oleh kehidupan gelap yang kita tak penah membayangkan.

Itulah kenapa manusia perlu mengaji, mendengarkan pengajian, membaca Al Quran dan sebagainya. Karena memang manusia penuh dengan tantangan, penuh dengan kenikmatan hidup dan kebahagiaan semua di dunia ini, yang jika kita salah memilih kita akan menyesal, sebesar-besarnya penyesalan. Coba kita renungkan ketika kita telah membaca sebuah surat Al Quran, atau bahkan hanya Al Fatihah saja, apa yang kita rasakan. Sebuah ketenangan, dan Insya Allah kebaikan yang lebih dalam hidup ini. Kemarin dalam sebuah khutbah Jum’at, Khotib berkata bahwa dalam sebuah huruf Al Quran yang dibaca itu mengandung 10 kebaikan, andaikan itu sebuah Basmallah saja, sudah mengandung 19 huruf, artinya ada 190 kebaikan disana. Hanya sebuah basmallah, bayangkan jika sebuah ayat panjang atau bahkan Al Quran penuh. Tak terbayangkan berapa banyak kebaikan yang kita dapatkan dari Sang Khalik, Allah SWT.

Ketika hati sudah membeku, atau bahkan mati. Mungkin kita masih hidup, bahkan dengan tertawa yang jika kita lihat seperti bahagia, namun hatinya hampa. Tak ada satupun kebahagiaan dan kedamaian yang ia rasakan. Ketika nasehat Islami dihadirkan, tak mau diri kita menyentuhnya. Ketika sebuah pesan dari seorang kawan kita terima dan itu berisi nasehat, tak mau kita membukanya. Padahal jika kita sadar, sesungguhnya hawa nafsu dan syetan sedang bermain disana. Kita selalu berkata, jangan dibuka, jangan dibaca nanti kalau kita tahu hukumnya kita jadi takut, kita jadi nggak bisa ini dan nggak bisa itu. Nanti aku bisa terkekang, dsb. Astaghfirllahaladhim, kita hidup disini, bukan kita sendiri yang menciptakan. Dan kita hidup di dunia ini bukanlah untuk kehidupan saat ini saja. Andaikan ada pikiran dalam diri kita, mumpung masih muda, mumpung belum punya istri, mumpung belum punya anak. Apa iya, kita yakin, usia kita akan sepanjang itu. Apa iya, perjalanan kita siang ini bisa kembali ke rumah dengan selamat. Bukankah hampir setiap hari berita buruk kita dengarkan, betapa banyak orang yang sakit yang takut akan hadirnya hari akhir. Kawan, kita masih harus bersyukur. Kita sehat, kita pandai, kita berada di tempat paling indah, kita punya kesempatan untuk berbagi dengan semua. Dengan orang yang membutuhkan, membuat orang tua bahagia, kerabat, sahabat, dan semuanya. Terlalu mahal kehidupan ini hanya untuk memikirkan suatu masalah dunia yang tidak ada ujung. Terlalu berharga waktu kita, cobalah kita pikirkan masa depan kita di dunia ini dan di akhirat kelak. Mumpung masih ada waktu, seperti sebuah lagu dari Ebiet G. Ade.

Banyak hal yang akan menghantarkan kita terhadap kedamaian ini. Sahabatku, saudaraku dimanapun kalian berada. Ingatkan aku ya, jika dengan nasehatmu aku tak berubah, mungkin hati ini telah mati. Doakan aku dan kalian semua tetap berada di Jalan Allah. Sebuah jalan kemenangan yang pasti akan tiba. Kebahagiaan yang sesungguhnya. Mungkin kita tidak berada di atas sekarang, mungkin kita masih di tengah atau malah dibawah, bersabar dan berusahalah, Insya Allah jalan itu pasti ada. Dengarkan nurani yang suci pada tiap dirimu, karena sesungguhnya manusia sejahat apapun pasti punya hati nurani. Coba kita tanyakan pada seorang pendusta, bagaimana perasaan dia setelah berucap dusta, pasti ada rasa bersalah meski hanya kecil. Coba kita tanyakan kepada seorang penjahat, jawabannya pun demikian. Kita perlu memohon ampun kepada Allah, instrospeksi diri, dan memperbaiki diri. Bukan jika kita telah tua kita baru bertaubat, bukan jika kita sudah menikah kita akan bertaubat. Ingat, hidup ini hanya Allah yang tahu. Dan semakin dini kita bermakna kepada setiap orang, Insya Allah semakin banyak kebaikan yang kita tanam, hidup yang sangat indah. Dan kebaikan tulus akan hadir pada diri kita, bukan yang meminta imbalan harta, bahkan kehormatan diri. Ingatkan aku ya saudaraku, mari berjuang dalam kebaikan, dan langitpun kan membawa kedamaian yang sesungguhnya. Tulisan ini ku hadiahkan untukmu semua saudaraku, Semoga Allah selalu melindungi kita, meridhoi jalan kita, dan memilihkan jalan yang terbaik untuk kebahagiaan di dunia ini dan kelak selamanya.Andaikan ada salah kata mohon diingatkan karena itu adalah kelemahanku sebagai manusia. Dan segala kebaikan datangnya dari Allah.

“Rumah, Sidoarjo”

Hari ini sudah beranjak larut malam, sebagian dari kita mungkin sudah masuk ke dalam mimpi indah. Beberapa menit yang lalu teringat sesuatu dan ingin rasanya berbagi kebahagiaan dengan kalian semua, meski bukanlah sebuah kabar gembira. Hanya ingin mengajak kita semua tuk mensyukuri kehidupan yang telah Allah anugerahkan kepada kita ini. Kita hidup di dunia ini ada yang sudah 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun dan juga sesuai umur kita masing-masing. Selama perjalanan kehidupan ini tentu banyak hal indah dan buruk yang sudah kita alami. Bukan karena sebuah kesombongan atau apa, namun saya yakin Anda adalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang diberikan kelebihan Allah yang luar biasa. Jika tidak punya ilmu, tak mungkin anda bisa buka web ini, membaca setiap kata dan meresapi artinya. Banyak dari teman seumuran kita yang jangankan untuk mengakses internet, untuk membaca pun mungkin mereka masih belajar.

Beberapa hari lalu, Alhamdulillah saya juga menerima sebuah anugrah yang berupa kelulusan dalam tingkat pendidikan strata-1 atau sarjana. Jika melihat saudara kita di banyak tempat masih banyak yang putus sekolah bahkan hanya sampai tingkat SD, ataupun lebih parah dari itu tidak merasakan nikmatnya pendidikan ini. Kita kadang lupa dengan nikmat ini, sudah diberikan sebuah kepercayaan luar biasa dan kesempatan dari orang tua kita, terkadang kita masih menyia-nyiakan dengan tidak memanfaatkan waktu kuliah kita sebaik-baiknya. Kesempatan ini tidak akan terulang saudaraku, jangan lewatkan kesempatan detik ini, nanti, dan esok, sampai kapanpun ada kesempatan untuk belajar. Selagi keadaan memungkinkan, jangan pernah sia-siakan ini.

Orang tua kita, janganlah pernah kita lupakan. Mereka hanya ingin kita bahagia, bukan yang lain. Berapa banyak uang, keringat yang mereka relakan demi kebahagiaan kita. Namun, apa yang telah kita berikan bagi mereka, cacian, makian, atau bahkan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan kepada kita. Kapan terakhir kali kita berkata maaf, sayang dan mencium orang tua kita. Dan kapan terakhir kali kita melakukan terhadap kekasih kita. Pernahkah kita mengkhawatirkan orang tua kita, dibandingkan kita mengkhawatirkan kekasih anda. Lebih dari itu, pernahkah kita berusaha menemani orang tua kita ketika sendiri di rumah, atau kita lebih memilih bersenang-senang tanpa menghiraukan mereka yang sangat mulia. Siapkah kita ketika kita tua nanti mendapatkan pelakuan serupa, siapkah kita ditinggal sendiri dalam keadaan lemah di hari tua kita nanti oleh anak-anak kita. Saya yakin jawabannya tentu tidak, ketika kita mau berbagi dan menghargai kedua orang tua kita, Insya Allah kelak di hari tua kita kita pun akan mendapatkan hal serupa. Ingat saudaraku, hidup ini kita tak selamanya muda, kita akan tua dan kembali ke hadapannya kelak.

Saudara kita, kita mungkin sudah melupakan tradisi luhur bangsa ini. Ya salah satunya ikatan kekerabatan, siapa nama-nama sepupu anda, masih ingatkah kita, atau kita sudah melupakan mereka semua. Kekayaan kita, nama baik kita, kecantikan bahkan ilmu yang kita miliki tidaklah abadi. Ketika Allah menghendaki itu hilang, apa yang mau kita lakukan. Jadi janganlah ketika kita berada dalam kebahagiaan kita lupakan saudara kita yang sedang kesusahan. Apalagi kerabat dekat kita. Sesungguhnya mereka lebih membutuhkan uluran tangan kita sebelum kita membantu yang lainnya. Jangan selalu merasa lebih kuat, lebih hebat, lebih pandai, lebih cantik, lebih tenar, dst.. karena itu hanya pendapat kita, yang tentu saja kita tidak akan tahu apa yang orang lain katakan tentang kita jika hanya membanggakan diri, tanpa sebuah karya yang sesungguhnya.

Kekasih, istri atau siapapun pasangan kita. Janganlah kita merasa lebih hebat, lebih hebat, lebih baik, lebih diperlukan dan sebagainya. Mungkin saat ini kita sedang cakep-cakepnya atau cantik-cantiknya (kalau boleh berkata layaknya anak muda jaman sekarang), kita bisa saja mengkhianati pasangan kita, cari sebanyak-banyaknya, buat bersenang-senang saja. Karena kita merasa kita berada di atas. Sadarkah kita, apabila hal ini kita terima dalam kesempatan yang lebih tinggi. Ketika pengkhianatan kita nanti dibalas suami atau istri kita kelak di pernikahan, apakah kita tidak akan hancur melebihi hancurnya perasaan orang yang kita sakiti dulu. Yah, meski semua orang berhak untuk memiliki dan memilih, berusaha untuk tetap menjaga sikap, perasaan dan rasa yang tulus Insya Allah akan mendapatkan balasan yang baik. Andaikan bukan dengan dia, pasti akan ada yang lebih baik dari itu yang dikirimkan untuk Anda.

Saudara kita yang kurang beruntung, banyak sekali hal ini yang kita tak pernah bayangkan. Mungkin mereka yang terbaring lemah di rumah sakit, mereka yang kehilangan keluarganya. Mereka yang harus diusir dari pekerjaannya sebagai PKL. Mereka yang menangis di pinggir jalan. Mereka yang harus tidur beratapkan langit. Mereka yang tertimpa musibah. Mereka yang senantiasa mengharapkan keadilan dan kebahagiaan layaknya yang kita semua rasakan. Jangan pernah lupakan mereka, dan kita pun tak akan dilupakan oleh kebahagiaan. Ketika kesombongan dan keegoisan diri menjadi budak, sesungguhnya keresahan hati dan hilangnya kebahagiaan tinggal menunggu waktu. Percayalah, kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya ketika kita mampu berikan yang terbaik bagi orang-orang yang membutuhkan, bagi orang-orang yang kita sayangi. Insya Allah akan tetap indah jalan hidup ini. Semangat dan terus berjuang Saudaraku, hingga akhir kita kelak.

“Rumah, Sidoarjo”

Older Posts »